"Lo
seharusnya nangis kejer, bukan kaya gini."
Lia
menepuk bahuku dari belakang dan menghempaskan bokong trepesnya di kursi tinggi
depanku. Aku sedang berada di salah satu cafe di jalan Ki Mangunkusumo. Lia
melambaikan tangan dan datanglah seorang waiter sambil membawa buku menu. Tanpa
melihat menu yang disodorkan waiter tersebut dia sudah menyebutkan pesanannya.
"Lo
gak asik" ucapku setelah mendengar pesanannya sambil mendelikan mata
kepadanya.
"Terus?
Lo mau gue pesen sama kaya lo? Tujuan lo manggil gue kesini kan buat nyetirin
lo pas lo lagi tepar. Ya kan? Lagian ngapain sih siang siang begini minum? Gak
gerah apa? Enakan es jeruk gue, adem." Jelasnya sambil memainkan embun
embun di botol botol bir yang ada dihadapannya.
"Hhmm.
Serah lo." Aku kembali menenggak minuman minumanku. Rasa dingin di mulut
dan hangat di kerongkongan langsung menyambutku. Entah sejak kapan aku
mengkonsumsi minuman seperti ini. Ini memang bir murah yang efeknya tak terlalu
parah menurutku, jika dibandingkan dengan vodka atau martini. Itu level yang
berbeda. Biasanya aku minum dua minuman tersebut kalau sedang berada di klub
tertutup. Bukan cafe terbuka seperti ini.
Arya
tidak tahu akan kebiasanku yang ini dan jangan sampai tahu. Aku tak pernah mau
bila temanku ada yang mengabadikan kegiatanku yang seperti ini. Aku tahu hal
yang aku lakukan bukanlah sebuah kebanggaan. Awalnyapun aku hanya mencoba,
namun lama kelamaan menjadi sebuah kebiasaan. Bila aku pusing entah dengan Arya
ataupun kuliah pasti aku lari ke minuman.
"Makasih
mbak." Suara Lia menyentakku dari lamunanku. Dia tersenyum manis kepadaku
setelah menerima segelas es jeruknya.
"Ngapain
lo liatin gue kaya gitu? Jijik banget." Aku menggidikkan pundakku.
"Jadi
lo diputusin Arya?" Lia menopang dagunya dengan kedua tangannya, tak lupa
senyumnya yang menjijikan ditujukan kepadaku. Sialan! Dia teman atau apa sih?
Matanya berbinar binar sarat akan menuntut penjelasan.
"Lo
bahagia gitu? Lo tuh temen apa koreng sih?" Aku kembali meneguk minumanku
langsung dari botolnya. Agak perih sebenarnya ketika aku meneguk dengan besar
besar seperti ini. Tapi aku sebal dengan tingkah orang didepanku.
"Yaa
kan setidaknya Arya sekarang jomblo, wkwk" dengan terkikik Lia meminum es
jeruknya dari sedotan dengan sok anggun.
"Pacarin
sana."
"Beneran?
Asik!" Aku mengambil sedotan di gelas es jeruknya dan melemparkan
kepadanya, yang dilempar hanya tertawa tak peduli bajunya terdapat bulatan
bulatan kecil dengan warna lebih tua dari warna bajunya yang pink magenta. Lia
terus tertawa berhasil menggodaku. Sialan memang punya temen agak gila seperti
dia. Aku meneguk seperempat bir terakhir di botol keduaku. Setelah tandas semua
aku berdiri menuju kasih tak menghiraukan Lia yang masih tertawa di meja kami
tadi.
"Meja
27." Kataku sambil mengeluarkan dompet dari tas slempang kecil hitam yang
sedari tadi menggantung di pundakku.
"Sembilan
puluh delapan, mbak." Setelah mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan
mendapat kembalian aku berbalik menuju parkiran. Setelah aku sampai di motor
matikku dan mengeluarkan kunci, tangan Lia langsung merebut kunciku.
"Gue
yang nyetir." Dengan pasrah aku memakai helmku dan memperhatikannya yang
sedang memanuver motor untuk berhenti di depanku. Tadi Lia ku telpon dan ku
beri tahu bahwa aku sedang ada di cafe sendirian serta memintanya menemuiku
tanpa membawa kendaraan. Sepertinya dia memakai ojek online karen tidak ada
setengah jam dia sudah sampai di cafe dan merusak moodku. Sebenarnya aku tak
berharap banyak dengan kedatangannya. Dia bukan teman yang akan merangkul dan
mengelus punggungku bila aku sedang bersedih. Dia memiliki cara tersendiri. Dia
pasti akan menggodaku habis habisan sampai aku emosi dan dapat mengeluarkan
semua emosiku. Dia unik. Dan sayangnya dia sahabat terbaikku.
"Mau
kemana ini? Gak mungkin balik kan?" Tanyanya di perempatan lampu merah
ketika motor berhenti.
"Terserah."
Jawabku sambil memandangi lampu penghitung tanda berhenti. Empat tujuh, empat
enam, empat lima, empat empat, empat tig...
"Hahh
mall yah." Aku mengerlingkan mataku karena kaget dengan seruannya. Tadi
aku bilang apa? Terserah kan? Aku hanya membalasnya dengan dehaman. Aku malas.
Benar benar malas. Namun aku juga tak ingin pulang. Oke, mendingan aku
menurutinya saja.
Setelah dia memarkinkan motor di parkiran mall, aku mengikutinya dari belakang seperti anak ayam mengikuti induknya. Ketika dia berbelok aku juga ikut berbelok, dia mundur aku ikut mundur, dia menoleh ke etalase etalase toko aku ikuti juga. Dia sama sekali tak mengajakku berbicara. Syukurlah setidaknya energiku tidak berkurang untuk berdebat dengannya. Sesampainya di lantai tiga Paragon Mall aku menoleh kearah kiriku, ada area permainan anak anak. Aku tarik ujung baju Lia, yang kutarik bajunya hanya menoleh dan menaikkan alisnya. Aku menggedikkan daguku ke area permainan anak anak.
Setelah dia memarkinkan motor di parkiran mall, aku mengikutinya dari belakang seperti anak ayam mengikuti induknya. Ketika dia berbelok aku juga ikut berbelok, dia mundur aku ikut mundur, dia menoleh ke etalase etalase toko aku ikuti juga. Dia sama sekali tak mengajakku berbicara. Syukurlah setidaknya energiku tidak berkurang untuk berdebat dengannya. Sesampainya di lantai tiga Paragon Mall aku menoleh kearah kiriku, ada area permainan anak anak. Aku tarik ujung baju Lia, yang kutarik bajunya hanya menoleh dan menaikkan alisnya. Aku menggedikkan daguku ke area permainan anak anak.
"Oke,
lets go!" Ucapnya sambil masuk kedalam area permainan. "Lo yang beli
koin gih." Tanpa banyak bicara aku langsung ke bagian kasir, menyerahkan
uang lima puluh ribuan dan menukarkannya dengan dua puluh koin. Sepuluh koin ku
genggam ditangan kiri dan sepuluh di tangan kanan. Setelah sampai di depan Lia
yang sedang memandang salah satu permainan memukul buaya, aku menyerahkan koin
di tangan kananku kepadanya.
"Ini
buat pemanasan ya?" Katanya seraya tersenyum sok misterius kepadaku.
Dengan
senyum miring aku memandangnya, "Oke." Jawabku singkat dan memulai
aksiku dengannya.
***
"Lo
kemaren kemana aja?" Suara serak khas orang bangun tidur menyambutku di
siang yang terik ini. Abi, salah satu temanku juga teman Lia. Aku langsung
masuk kedalam kontrakan yang berantakan dan menjatuhkan tubuhku di sofa yang
penuh dengan baju tergeletak dimana mana.
"Woles
dong, abis disetrika itu." Abi mengambil baju yang ada di lengan
sofa, sebuah kaos lengan panjang dengan tulisan salah satu brand terkenal
dikalangan remaja.
"Yaelah,
baju setrikaan itu dilipet. Bukan disampir sampir dimana mana begini." Aku
mengambil baju yang lainnya di sandaran sofa dan melemparkan ke muka Abi.
"Jawab
pertanyaan gue tadi. Kemaren kemana aja ga bisa di hubungin?" Abi masuk
kedalam kamar yang hanya berjarak dua meter dari sofa tempat dudukku. Kontakan
Abi kecil. Hanya ada satu kamar, satu dapur yang sejajar dengan ruang tamu yang
merangkap ruang keluarga yang sedang aku tempati sekarang, serta ada kamar
mandi disamping dapurnya tersebut. Sebenernya kontrakan Abi lebih mirip
apartemen mini jika bangunan ini ada di tumpukan bangunan lain di gedung,
sayangnya bangunan ini ada di gang sempit di pusat kota Semarang yang mana
bangunan satu dan lainnya saling berjejeran.
"Yaelah
nglamun lagi ditanya." Abi keluar, masih dengan penampilan seperti tadi.
Tanpa kaos dan hanya menggunakan celana jins tiga perempatnya. Dia berjalan
menuju kulkas kecil diujung ruangan dapurnya dan mengambil sebotol air
mineral.
"Kongkow.
Main. Ngabisin duit." Abi menyerahkan botol mineral yang tinggal separuh
isinya kepadaku setelah dia menegak separuh yang lain tadi.
"Iye,
gue tau lo bisa cari duit sendiri makanya demen ngabisin duit." Abi meraih
remot tv di meja depan kami dan menyalakan tv. Abi menghempaskan tubuhnya di
sampingku dan mengganti ganti saluran tv.
"Bukan
gitu. Gue lagi pusing." Aku memandang tv dengan pandangan menerawang. Aku
merasakan pandangan kearahku yang tak lain tentunya dari Abi.
"Ada
masalah?" Abi menghentikan kegiatan mengganti ganti saluran tv. Kini
sebuah berita kecelakan lalu lintas yang sedang menghiasai tv didepan kami. Aku
tetap memandang tv walau aku sama sekali tak berminat menonton berita
tersebut.
"Lo
tau kan lo bisa cerita apapun ke gue?" Aku mengangguk. Aku menoleh ke Abi
dan mengehembuskan nafas panjang.
"Gue
putus." Abi tersenyum.
"Paling
balikan lagi." Abi mengalihkan tatapannya dan kembali mengganti saluran
tv.
"Lo
tau kan? Gue gak pernah putus sama Arya. Dan dia kemaren bilang minta udahan
dan pergi. Dari kemaren juga gue gak bisa hubungi nomor dia dan segala
sosmednya."
Abi
menghadapku lagi, "Laki-laki butuh menenangkan diri. Nanti setelah tenang,
pasti balik lagi."
"Sampe
kapan?" Abi bangun dan membenahi antena portabel di samping tvnya.
Menggoyang goyangkan sedikit, ketika dirasanya cukup jernih gambar di tv dia
kembali duduk disampingku.
"Entah.
Emang masalahnya apa sih? Dia tau kelakuan lo?"
Aku menghadap ke tv yang sedang menampilkan animasi anak anak berbahasa Malaysia.
Aku menghadap ke tv yang sedang menampilkan animasi anak anak berbahasa Malaysia.
"Bukan.
Eh iya." Aku mengalihkan pandanganku kepada Abi yang sedang mengerutkan
keningnya, "Bukan, dia gak tau kelakuan gue yang preman disini. Dan iya,
karena ada sangkut pautnya. Katanya gue berubah dan dia cari cewek yang bisa
dia atur. Bukan gue yang semau gue."
"Yaudah."
Abi meletakan remot di meja dan mengambil botol air mineral di tanganku yang
tadi dia serahkan kepadaku dan meneguknya hingga tandas.
"Kok
yaudah?"
"Iya
yaudah. Kan dia yang lepasin lo. Tinggal lo nya aja. Kalo menurut gue, sambut
aja. Lo lepasin dia. Kan kelar?"
"Kok
lo gampang banget ngomongnya?"
"Dia
laki laki dewasa kan? Gue rasa dia memutuskan sesuatu juga dengan pemikiran
yang matang. Kalo emang dia udah mutusin buat ngelepas lo, ya berarti dia bener
bener nglepas lo. Dan nanti bila suatu hari dia minta lo balik, berarti dia
bukan laki laki yang baik. Karena laki laki yang baik gak akan plin plan dalam
mengambil keputusan." Jelas Abi panjang lebar. Aku masih memandang Abi.
Meresapi kalimat yang dia lontarkan barusan.
Aku
tahu Arya, aku paham sifatnya. Dan aku rasa ini juga sudah keputusannya. Jika
memang itu alasan dia, aku terima. Aku memang merasa belum bisa mengimbanginya.
Dia sudah jauh di depan sedangkan aku masih nyaman dengan posisiku sekarang.
Kami berbeda. Itulah yang aku sadari sekarang.
Pergerakan
Abi ketika berdiri menyentakku dalam pikiran tentang Arya. Abi berjalan menuju
dapur kecil disudut ruangan yang terdapat sebuah kompor satu tungku disamping
tempat cuci piring. Abi berjongkok didepan kulkasnya dan mengeluarkan sebuah
apel. Abi berjalan ke tempat cuci piring dan mencuci apel merah tersebut dan
langsung menggigitnya setelah menggosok gosok pada celananya. Aku yang melihat
tingkahnya hanya mengerutkan alisku sedangkan si tersangka pelaku kejorokan
mulai berjalan ke arahku seraya menggigit apelnya besar besar.
"Kan
lo udah disini, gue laper. Masak gih." Katanya sambil menghempaskan badan
di sofa sampingku. Aku berdiri, tanpa banyak bicara mulai menuju kulkasnya dan
mengeluarkan telur serta sosis. Kulkas Abi lumayan komplit dari sayur, buah
bahkan biasanya ada daging karena aku maupun Lia sering berkunjung dan memasak
disini, bahkan kamipun kerap menginap disini.
***
To be continue and see you at part three!

Komentar
Posting Komentar