SEBAB HATI PART 2


"Lo seharusnya nangis kejer, bukan kaya gini."
Lia menepuk bahuku dari belakang dan menghempaskan bokong trepesnya di kursi tinggi depanku. Aku sedang berada di salah satu cafe di jalan Ki Mangunkusumo. Lia melambaikan tangan dan datanglah seorang waiter sambil membawa buku menu. Tanpa melihat menu yang disodorkan waiter tersebut dia sudah menyebutkan pesanannya.
"Lo gak asik" ucapku setelah mendengar pesanannya sambil mendelikan mata kepadanya. 
"Terus? Lo mau gue pesen sama kaya lo? Tujuan lo manggil gue kesini kan buat nyetirin lo pas lo lagi tepar. Ya kan? Lagian ngapain sih siang siang begini minum? Gak gerah apa? Enakan es jeruk gue, adem." Jelasnya sambil memainkan embun embun di botol botol bir yang ada dihadapannya. 
"Hhmm. Serah lo." Aku kembali menenggak minuman minumanku. Rasa dingin di mulut dan hangat di kerongkongan langsung menyambutku. Entah sejak kapan aku mengkonsumsi minuman seperti ini. Ini memang bir murah yang efeknya tak terlalu parah menurutku, jika dibandingkan dengan vodka atau martini. Itu level yang berbeda. Biasanya aku minum dua minuman tersebut kalau sedang berada di klub tertutup. Bukan cafe terbuka seperti ini. 
Arya tidak tahu akan kebiasanku yang ini dan jangan sampai tahu. Aku tak pernah mau bila temanku ada yang mengabadikan kegiatanku yang seperti ini. Aku tahu hal yang aku lakukan bukanlah sebuah kebanggaan. Awalnyapun aku hanya mencoba, namun lama kelamaan menjadi sebuah kebiasaan. Bila aku pusing entah dengan Arya ataupun kuliah pasti aku lari ke minuman.
"Makasih mbak." Suara Lia menyentakku dari lamunanku. Dia tersenyum manis kepadaku setelah menerima segelas es jeruknya.
"Ngapain lo liatin gue kaya gitu? Jijik banget." Aku menggidikkan pundakku.
"Jadi lo diputusin Arya?" Lia menopang dagunya dengan kedua tangannya, tak lupa senyumnya yang menjijikan ditujukan kepadaku. Sialan! Dia teman atau apa sih? Matanya berbinar binar sarat akan menuntut penjelasan.
"Lo bahagia gitu? Lo tuh temen apa koreng sih?" Aku kembali meneguk minumanku langsung dari botolnya. Agak perih sebenarnya ketika aku meneguk dengan besar besar seperti ini. Tapi aku sebal dengan tingkah orang didepanku.
"Yaa kan setidaknya Arya sekarang jomblo, wkwk" dengan terkikik Lia meminum es jeruknya dari sedotan dengan sok anggun.
"Pacarin sana." 
"Beneran? Asik!" Aku mengambil sedotan di gelas es jeruknya dan melemparkan kepadanya, yang dilempar hanya tertawa tak peduli bajunya terdapat bulatan bulatan kecil dengan warna lebih tua dari warna bajunya yang pink magenta. Lia terus tertawa berhasil menggodaku. Sialan memang punya temen agak gila seperti dia. Aku meneguk seperempat bir terakhir di botol keduaku. Setelah tandas semua aku berdiri menuju kasih tak menghiraukan Lia yang masih tertawa di meja kami tadi. 
"Meja 27." Kataku sambil mengeluarkan dompet dari tas slempang kecil hitam yang sedari tadi menggantung di pundakku.
"Sembilan puluh delapan, mbak." Setelah mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan mendapat kembalian aku berbalik menuju parkiran. Setelah aku sampai di motor matikku dan mengeluarkan kunci, tangan Lia langsung merebut kunciku.
"Gue yang nyetir." Dengan pasrah aku memakai helmku dan memperhatikannya yang sedang memanuver motor untuk berhenti di depanku. Tadi Lia ku telpon dan ku beri tahu bahwa aku sedang ada di cafe sendirian serta memintanya menemuiku tanpa membawa kendaraan. Sepertinya dia memakai ojek online karen tidak ada setengah jam dia sudah sampai di cafe dan merusak moodku. Sebenarnya aku tak berharap banyak dengan kedatangannya. Dia bukan teman yang akan merangkul dan mengelus punggungku bila aku sedang bersedih. Dia memiliki cara tersendiri. Dia pasti akan menggodaku habis habisan sampai aku emosi dan dapat mengeluarkan semua emosiku. Dia unik. Dan sayangnya dia sahabat terbaikku.
"Mau kemana ini? Gak mungkin balik kan?" Tanyanya di perempatan lampu merah ketika motor berhenti. 
"Terserah." Jawabku sambil memandangi lampu penghitung tanda berhenti. Empat tujuh, empat enam, empat lima, empat empat, empat tig...
"Hahh mall yah." Aku mengerlingkan mataku karena kaget dengan seruannya. Tadi aku bilang apa? Terserah kan? Aku hanya membalasnya dengan dehaman. Aku malas. Benar benar malas. Namun aku juga tak ingin pulang. Oke, mendingan aku menurutinya saja.
Setelah dia memarkinkan motor di parkiran mall, aku mengikutinya dari belakang seperti anak ayam mengikuti induknya. Ketika dia berbelok aku juga ikut berbelok, dia mundur aku ikut mundur, dia menoleh ke etalase etalase toko aku ikuti juga. Dia sama sekali tak mengajakku berbicara. Syukurlah setidaknya energiku tidak berkurang untuk berdebat dengannya. Sesampainya di lantai tiga Paragon Mall aku menoleh kearah kiriku, ada area permainan anak anak. Aku tarik ujung baju Lia, yang kutarik bajunya hanya menoleh dan menaikkan alisnya. Aku menggedikkan daguku ke area permainan anak anak.
"Oke, lets go!" Ucapnya sambil masuk kedalam area permainan. "Lo yang beli koin gih." Tanpa banyak bicara aku langsung ke bagian kasir, menyerahkan uang lima puluh ribuan dan menukarkannya dengan dua puluh koin. Sepuluh koin ku genggam ditangan kiri dan sepuluh di tangan kanan. Setelah sampai di depan Lia yang sedang memandang salah satu permainan memukul buaya, aku menyerahkan koin di tangan kananku kepadanya. 
"Ini buat pemanasan ya?" Katanya seraya tersenyum sok misterius kepadaku. 
Dengan senyum miring aku memandangnya, "Oke." Jawabku singkat dan memulai aksiku dengannya.
***
"Lo kemaren kemana aja?" Suara serak khas orang bangun tidur menyambutku di siang yang terik ini. Abi, salah satu temanku juga teman Lia. Aku langsung masuk kedalam kontrakan yang berantakan dan menjatuhkan tubuhku di sofa yang penuh dengan baju tergeletak dimana mana.
"Woles dong, abis disetrika itu."  Abi mengambil baju yang ada di lengan sofa, sebuah kaos lengan panjang dengan tulisan salah satu brand terkenal dikalangan remaja.
"Yaelah, baju setrikaan itu dilipet. Bukan disampir sampir dimana mana begini." Aku mengambil baju yang lainnya di sandaran sofa dan melemparkan ke muka Abi. 
"Jawab pertanyaan gue tadi. Kemaren kemana aja ga bisa di hubungin?" Abi masuk kedalam kamar yang hanya berjarak dua meter dari sofa tempat dudukku. Kontakan Abi kecil. Hanya ada satu kamar, satu dapur yang sejajar dengan ruang tamu yang merangkap ruang keluarga yang sedang aku tempati sekarang, serta ada kamar mandi disamping dapurnya tersebut. Sebenernya kontrakan Abi lebih mirip apartemen mini jika bangunan ini ada di tumpukan bangunan lain di gedung, sayangnya bangunan ini ada di gang sempit di pusat kota Semarang yang mana bangunan satu dan lainnya saling berjejeran. 
"Yaelah nglamun lagi ditanya." Abi keluar, masih dengan penampilan seperti tadi. Tanpa kaos dan hanya menggunakan celana jins tiga perempatnya. Dia berjalan menuju kulkas kecil diujung ruangan dapurnya dan mengambil sebotol air mineral. 
"Kongkow. Main. Ngabisin duit." Abi menyerahkan botol mineral yang tinggal separuh isinya kepadaku setelah dia menegak separuh yang lain tadi. 
"Iye, gue tau lo bisa cari duit sendiri makanya demen ngabisin duit." Abi meraih remot tv di meja depan kami dan menyalakan tv. Abi menghempaskan tubuhnya di sampingku dan mengganti ganti saluran tv.
"Bukan gitu. Gue lagi pusing." Aku memandang tv dengan pandangan menerawang. Aku merasakan pandangan kearahku yang tak lain tentunya dari Abi.
"Ada masalah?" Abi menghentikan kegiatan mengganti ganti saluran tv. Kini sebuah berita kecelakan lalu lintas yang sedang menghiasai tv didepan kami. Aku tetap memandang tv walau aku sama sekali tak berminat menonton berita tersebut. 
"Lo tau kan lo bisa cerita apapun ke gue?" Aku mengangguk. Aku menoleh ke Abi dan mengehembuskan nafas panjang.
"Gue putus." Abi tersenyum. 
"Paling balikan lagi." Abi mengalihkan tatapannya dan kembali mengganti saluran tv. 
"Lo tau kan? Gue gak pernah putus sama Arya. Dan dia kemaren bilang minta udahan dan pergi. Dari kemaren juga gue gak bisa hubungi nomor dia dan segala sosmednya."
Abi menghadapku lagi, "Laki-laki butuh menenangkan diri. Nanti setelah tenang, pasti balik lagi."
"Sampe kapan?" Abi bangun dan membenahi antena portabel di samping tvnya. Menggoyang goyangkan sedikit, ketika dirasanya cukup jernih gambar di tv dia kembali duduk disampingku.
"Entah. Emang masalahnya apa sih? Dia tau kelakuan lo?"
Aku menghadap ke tv yang sedang menampilkan animasi anak anak berbahasa Malaysia.
"Bukan. Eh iya." Aku mengalihkan pandanganku kepada Abi yang sedang mengerutkan keningnya, "Bukan, dia gak tau kelakuan gue yang preman disini. Dan iya, karena ada sangkut pautnya. Katanya gue berubah dan dia cari cewek yang bisa dia atur. Bukan gue yang semau gue."
"Yaudah." Abi meletakan remot di meja dan mengambil botol air mineral di tanganku yang tadi dia serahkan kepadaku dan meneguknya hingga tandas.
"Kok yaudah?"
"Iya yaudah. Kan dia yang lepasin lo. Tinggal lo nya aja. Kalo menurut gue, sambut aja. Lo lepasin dia. Kan kelar?"
"Kok lo gampang banget ngomongnya?"
"Dia laki laki dewasa kan? Gue rasa dia memutuskan sesuatu juga dengan pemikiran yang matang. Kalo emang dia udah mutusin buat ngelepas lo, ya berarti dia bener bener nglepas lo. Dan nanti bila suatu hari dia minta lo balik, berarti dia bukan laki laki yang baik. Karena laki laki yang baik gak akan plin plan dalam mengambil keputusan." Jelas Abi panjang lebar. Aku masih memandang Abi. Meresapi kalimat yang dia lontarkan barusan. 
Aku tahu Arya, aku paham sifatnya. Dan aku rasa ini juga sudah keputusannya. Jika memang itu alasan dia, aku terima. Aku memang merasa belum bisa mengimbanginya. Dia sudah jauh di depan sedangkan aku masih nyaman dengan posisiku sekarang. Kami berbeda. Itulah yang aku sadari sekarang.
Pergerakan Abi ketika berdiri menyentakku dalam pikiran tentang Arya. Abi berjalan menuju dapur kecil disudut ruangan yang terdapat sebuah kompor satu tungku disamping tempat cuci piring. Abi berjongkok didepan kulkasnya dan mengeluarkan sebuah apel. Abi berjalan ke tempat cuci piring dan mencuci apel merah tersebut dan langsung menggigitnya setelah menggosok gosok pada celananya. Aku yang melihat tingkahnya hanya mengerutkan alisku sedangkan si tersangka pelaku kejorokan mulai berjalan ke arahku seraya menggigit apelnya besar besar.
"Kan lo udah disini, gue laper. Masak gih." Katanya sambil menghempaskan badan di sofa sampingku. Aku berdiri, tanpa banyak bicara mulai menuju kulkasnya dan mengeluarkan telur serta sosis. Kulkas Abi lumayan komplit dari sayur, buah bahkan biasanya ada daging karena aku maupun Lia sering berkunjung dan memasak disini, bahkan kamipun kerap menginap disini. 
***

 To be continue and see you at part three!

Komentar