“Kita sudahi saja ya”
Suara
tegas terdengar darinya. Aku yang berada di belakangnya langsung menoleh dengan
cepat. Tak bisa terelakan mulutku lalu terbuka, aku tak percaya, bagaimana
bisa? “Maksud kamu?”
“Iya,
sudahi.” dia menoleh menatapku, “Kamu berubah. Kamu sudah tidak menghargai
hubungan kita lagi. Semenjak kamu kuliah kamu sering keluar malam, entah dengan
siapapun itu. Aku mencoba percaya sama kamu. Aku mencoba mengerti, tapi kamu
yang tidak mengerti.” Jelasnya panjang lebar. Aku terus menatap matanya, namun
aku belum mengerti apa yang di ucapkannya, tadi dia bilang apa? Berubah,
menghargai, kuliah, keluar malam, percaya, tidak mengerti, aaaahh aku tahu dia
pasti cemburu.
Aku
tersenyum mentapnya, aku ambil tangannya dan ku genggam, “Mas, kamu cemburu?”.
Dahinya berkerut. Setelah beberapa detik dia senyum dan tertawa. Aku heran,
orang ini aneh sekali.
“Cemburu?
Kamu berfikir seperti itu? Benar-benar kamu ini.” Dia membalik tubuhnya hingga
genggaman tangan kami terlepas dan berjalan ke kursi teras depan rumahku yang
berjarak dua meter dari kami berdiri. Dia menghempaskan tubuhnya ke kursi dan
menatapku. “Berapa tahun kita sama-sama? Kamu kenal aku kan? Kamu pasti tahu
bukan itu yang aku maksud.”
“Terus?
Kenapa tiba-tiba mau putus? Bahkan kamu gak pernah kaya gini.” Aku berjalan
menyusulnya dan ikut mendudukan tubuhku di kursi sampingnya yang dipisahkan
oleh sebuah meja bundar.
Dia
melirikku dan berdecak pelan. “Aku kan sudah bilang kalo kamu berubah. Kamu
tahu gak selama ini aku sudah bangga dengan kemajuanmu mengenal agama, tapi
semenjak kamu di Semarang, kamu jadi kaya gini. Mana jilbab kamu?” reflek aku
memegang kepala dan meringis, aku lupa.
“Eh,
ada kok. Tadi aku taruh di kursi.” Dia menggelengkan kepalanya dua kali dan
mengalihkan tatapannya ke jalanan depan rumahku yang dilewati beberapa motor.
“Aku
mencari perempuan yang bisa aku atur.” Dia mengalihkan tatapannya padaku, “Aku
mencari perempuan yang bisa diajak bersama-sama beribadah, yang bisa saling
mengingatkan jika salah satu salah. Bukan perempuan yang selalu aku ingatkan
tapi bebal dan kembali melakukan kesalahan.” Aku tercengang. Aku tahu bahwa
yang dia maksud perempuan bebal itu aku. Aku masih terpaku sambil terus menatap
matanya. Ada kesungguhan disana. Ya Tuhan, jadi dia serius ingin mengakhiri
hubungan ini? Aku menggelengkan kepalaku. Mataku terasa panas dan tanpa ku
sadari air mata sudah mengalir ke pipiku.
“Mas,”
aku terbata. Dia berdiri dan menatapku. “Aku pulang. Salam untuk ibu dan bapak.
Assalamualaikum.” Dia berjalan ke tempat diamana dia memarkirkan motornya di
depan gerbang rumahku. Aku terus memandangnya. Aku masih tidak percaya,
bagaimana bisa dia mengucapkan kalimat seperti itu lalu pamit pulang. Aku
mendengar dia menstarter motornya, aku langsung berdiri, “Mas, Tunggu!” ku
kejar dia ke depan rumah namun dia sudah beranjak pergi, semakin jauh dan
hilang di tikungan.
***
“Kamu beneran mau balik sekarang, nduk?” Ibu berdiri di pintu kamarku sambil memperhatikanku yang
sedang memasukan beberapa kaos ke tasku. Aku menoleh ke perempuan yang telah
melahirkanku dua puluh tahun yang lalu itu. “Katamu masih ada tiga hari lagi
liburnya” sambung Ibu.
“Iya bu, tapi aku ada acara sama anak-anak.” Aku
mengalihkan tatapan ke tas ransel biru dongker yang ada di hadapanku dan
melanjutka kegiatanku, masih ada satu kaos lagi yang harus aku masukan ke dalam
tas yang penuh ini. aku tak berani lama-lama menatap mata Ibu. Aku takut beliau
tahu aku bohong padanya.
“Ya sudah. Ibu nitip salam ya sama temen-temen kamu.
Tanyain, kapan main lagi ke rumah.” Aku tersenyum, beliau selalu seperti itu.
Sayang kepada siapa saja, bahkan teman-temanku yang preman-preman seperti
itupun disayang sama beliau.
Ku tarik resliting tasku, ku angkat dan ku pakai ke
punggung, “Iya nanti aku sampaikan. Ibu sehat sehat ya, Bapak mana?” tanyaku
mulai berjalan keluar kamar.
“Ada di depan. Adikmu di samping rumah, sana disalamin
juga.” Ibu mengikutiku berjalan ke teras rumah. Di depan rumah aku lihat Bapak
sedang memotong tumbuhan bonsai yang tumbuh bercabang-cabang.
“Mbak, jangan lupa yang kemarin.” Suara Nalen, adikku
yang kini masuk SMP megagetkanku dengan senyum khasnya.
“Oke. Nanti ingetin ya. Bbm aja.” Aku melambaikan tangan
pada Nalen yang dibalas dengan lambaian juga. Dia sedang menanam entah tanaman
apa karena ku lihat tangannya penuh dengan tanah. Aku berjalan ke Bapak yang
sudah menyodorkan tangannya, ku ambil dan ku cium tangannya, “Berangkat, Pak.”
“Iya. Hati-hati.” Jawab beliau dengan suara tegas tapi
menenangkan. Aku kembali berjalan ke Ibu, ku salami dan ku cium tangannya.
“Jangan lupa kabarin kalo udah sampai di kos. Hati-hati,
jangan ngebut.”
“Iya Bu, Nari berangkat dulu. Assalamualaikum Pak, Bu.”
Aku berjalan ke motor maticku yang sudah beberapa tahun ini menemaniku.
“Waalaikumsalam warrahmatullah.” Jawab Ibu dan Bapak
bersamaan. Aku mulai menstarter motorku meninggalkan rumah. Rumah yang asri
penuh kehangatan. Walaupun sederhana namun disanalah aku dibesarkan.
Aku Nari, Nariswari Diandari. Sekarang aku kuliah di
salah satu universitas swasta di Semarang. Sebenarnnya hari ini dan tiga hari
kedepan aku masih libur minggu tenang sebelum aku UAS dipengujung semester
lima. Selain itu juga dua hari yang lalu tahun baru. Mengingat itu aku kembali
teringat kejadian semalam. aku baru saja diputuskan. Mengenaskan bukan? Tahun
baru, awal yang baru dan selamat para jomblo ada anggota baru.
Aryasastra Prabanda, laki-laki yang telah menemaniku
selama hampir empat tahun belakangan. Walaupun kami tidak dalam satu kota, dia
di Jogja sama-sama kuliah. Aku mengenalnya dulu ketika masih SMA. Dia lima
tahun lebih tua dariku. Artinya lima angkatan diatasku saat SMA. Kami bertemu
pada saat pramuka. Dia menjadi tamu undangan disaat kemah Penerimaan Tamu
Ambalan dalam pramuka. Disanalah aku mengenal dia sebagai Arya alumni yang
paling nyebelin.
Dia reseh. Dia usil. Dia unik. Aku belum pernah bertemu
dengan orang seperti dia. Disaat semua alumni sok keren tebar pesona dengan
anak-anak SMA belia sepertiku, dia justru dengan cueknya lari-larian dan
menggoda teman-temannya. Dia apa adanya, bajunya hanya kaos oblong, celana jins
belel serta sepatu convers yang sepertinya tidak pernah dicuci beberapa bulan.
Hanya dia yang mencuri perhatianku. Itu pertemuan pertamaku dengannya, siapa
sangka malah selanjutnya aku sering bertemu dengannya.
Perjalanan Jepara-Semarang biasanya aku tempuh dalam
waktu dua jam. Aku sudah terbiasa melakukan perjalanan motor luar kota. Saat
masih dengan Arya aku kerap melakukan perjalanan motor ke Jogja yang bahkan
bisa ditempuh dalam waktu lima jam dari Jepara. Kami sama-sama berasal dari
Jepara. Kota dengan kerajinan khas ukirnya yang mendunia. Kota lahirnya dimana
pahlawan wanita Raden Ajeng Kartini.
***
To be continue and see you at part two!

Komentar
Posting Komentar