SEBAB HATI PART 1


“Kita sudahi saja ya”
Suara tegas terdengar darinya. Aku yang berada di belakangnya langsung menoleh dengan cepat. Tak bisa terelakan mulutku lalu terbuka, aku tak percaya, bagaimana bisa? “Maksud kamu?”
“Iya, sudahi.” dia menoleh menatapku, “Kamu berubah. Kamu sudah tidak menghargai hubungan kita lagi. Semenjak kamu kuliah kamu sering keluar malam, entah dengan siapapun itu. Aku mencoba percaya sama kamu. Aku mencoba mengerti, tapi kamu yang tidak mengerti.” Jelasnya panjang lebar. Aku terus menatap matanya, namun aku belum mengerti apa yang di ucapkannya, tadi dia bilang apa? Berubah, menghargai, kuliah, keluar malam, percaya, tidak mengerti, aaaahh aku tahu dia pasti cemburu.
Aku tersenyum mentapnya, aku ambil tangannya dan ku genggam, “Mas, kamu cemburu?”. Dahinya berkerut. Setelah beberapa detik dia senyum dan tertawa. Aku heran, orang ini aneh sekali.
“Cemburu? Kamu berfikir seperti itu? Benar-benar kamu ini.” Dia membalik tubuhnya hingga genggaman tangan kami terlepas dan berjalan ke kursi teras depan rumahku yang berjarak dua meter dari kami berdiri. Dia menghempaskan tubuhnya ke kursi dan menatapku. “Berapa tahun kita sama-sama? Kamu kenal aku kan? Kamu pasti tahu bukan itu yang aku maksud.”
“Terus? Kenapa tiba-tiba mau putus? Bahkan kamu gak pernah kaya gini.” Aku berjalan menyusulnya dan ikut mendudukan tubuhku di kursi sampingnya yang dipisahkan oleh sebuah meja bundar.
Dia melirikku dan berdecak pelan. “Aku kan sudah bilang kalo kamu berubah. Kamu tahu gak selama ini aku sudah bangga dengan kemajuanmu mengenal agama, tapi semenjak kamu di Semarang, kamu jadi kaya gini. Mana jilbab kamu?” reflek aku memegang kepala dan meringis, aku lupa.
“Eh, ada kok. Tadi aku taruh di kursi.” Dia menggelengkan kepalanya dua kali dan mengalihkan tatapannya ke jalanan depan rumahku yang dilewati beberapa motor.
“Aku mencari perempuan yang bisa aku atur.” Dia mengalihkan tatapannya padaku, “Aku mencari perempuan yang bisa diajak bersama-sama beribadah, yang bisa saling mengingatkan jika salah satu salah. Bukan perempuan yang selalu aku ingatkan tapi bebal dan kembali melakukan kesalahan.” Aku tercengang. Aku tahu bahwa yang dia maksud perempuan bebal itu aku. Aku masih terpaku sambil terus menatap matanya. Ada kesungguhan disana. Ya Tuhan, jadi dia serius ingin mengakhiri hubungan ini? Aku menggelengkan kepalaku. Mataku terasa panas dan tanpa ku sadari air mata sudah mengalir ke pipiku.
“Mas,” aku terbata. Dia berdiri dan menatapku. “Aku pulang. Salam untuk ibu dan bapak. Assalamualaikum.” Dia berjalan ke tempat diamana dia memarkirkan motornya di depan gerbang rumahku. Aku terus memandangnya. Aku masih tidak percaya, bagaimana bisa dia mengucapkan kalimat seperti itu lalu pamit pulang. Aku mendengar dia menstarter motornya, aku langsung berdiri, “Mas, Tunggu!” ku kejar dia ke depan rumah namun dia sudah beranjak pergi, semakin jauh dan hilang di tikungan.
***
            “Kamu beneran mau balik sekarang, nduk?” Ibu berdiri di pintu kamarku sambil memperhatikanku yang sedang memasukan beberapa kaos ke tasku. Aku menoleh ke perempuan yang telah melahirkanku dua puluh tahun yang lalu itu. “Katamu masih ada tiga hari lagi liburnya” sambung Ibu.
            “Iya bu, tapi aku ada acara sama anak-anak.” Aku mengalihkan tatapan ke tas ransel biru dongker yang ada di hadapanku dan melanjutka kegiatanku, masih ada satu kaos lagi yang harus aku masukan ke dalam tas yang penuh ini. aku tak berani lama-lama menatap mata Ibu. Aku takut beliau tahu aku bohong padanya.
            “Ya sudah. Ibu nitip salam ya sama temen-temen kamu. Tanyain, kapan main lagi ke rumah.” Aku tersenyum, beliau selalu seperti itu. Sayang kepada siapa saja, bahkan teman-temanku yang preman-preman seperti itupun disayang sama beliau.
            Ku tarik resliting tasku, ku angkat dan ku pakai ke punggung, “Iya nanti aku sampaikan. Ibu sehat sehat ya, Bapak mana?” tanyaku mulai berjalan keluar kamar.
            “Ada di depan. Adikmu di samping rumah, sana disalamin juga.” Ibu mengikutiku berjalan ke teras rumah. Di depan rumah aku lihat Bapak sedang memotong tumbuhan bonsai yang tumbuh bercabang-cabang.
            “Mbak, jangan lupa yang kemarin.” Suara Nalen, adikku yang kini masuk SMP megagetkanku dengan senyum khasnya.
            “Oke. Nanti ingetin ya. Bbm aja.” Aku melambaikan tangan pada Nalen yang dibalas dengan lambaian juga. Dia sedang menanam entah tanaman apa karena ku lihat tangannya penuh dengan tanah. Aku berjalan ke Bapak yang sudah menyodorkan tangannya, ku ambil dan ku cium tangannya, “Berangkat, Pak.”
            “Iya. Hati-hati.” Jawab beliau dengan suara tegas tapi menenangkan. Aku kembali berjalan ke Ibu, ku salami dan ku cium tangannya.
            “Jangan lupa kabarin kalo udah sampai di kos. Hati-hati, jangan ngebut.”
            “Iya Bu, Nari berangkat dulu. Assalamualaikum Pak, Bu.” Aku berjalan ke motor maticku yang sudah beberapa tahun ini menemaniku.
            “Waalaikumsalam warrahmatullah.” Jawab Ibu dan Bapak bersamaan. Aku mulai menstarter motorku meninggalkan rumah. Rumah yang asri penuh kehangatan. Walaupun sederhana namun disanalah aku dibesarkan.
            Aku Nari, Nariswari Diandari. Sekarang aku kuliah di salah satu universitas swasta di Semarang. Sebenarnnya hari ini dan tiga hari kedepan aku masih libur minggu tenang sebelum aku UAS dipengujung semester lima. Selain itu juga dua hari yang lalu tahun baru. Mengingat itu aku kembali teringat kejadian semalam. aku baru saja diputuskan. Mengenaskan bukan? Tahun baru, awal yang baru dan selamat para jomblo ada anggota baru.
            Aryasastra Prabanda, laki-laki yang telah menemaniku selama hampir empat tahun belakangan. Walaupun kami tidak dalam satu kota, dia di Jogja sama-sama kuliah. Aku mengenalnya dulu ketika masih SMA. Dia lima tahun lebih tua dariku. Artinya lima angkatan diatasku saat SMA. Kami bertemu pada saat pramuka. Dia menjadi tamu undangan disaat kemah Penerimaan Tamu Ambalan dalam pramuka. Disanalah aku mengenal dia sebagai Arya alumni yang paling nyebelin.
            Dia reseh. Dia usil. Dia unik. Aku belum pernah bertemu dengan orang seperti dia. Disaat semua alumni sok keren tebar pesona dengan anak-anak SMA belia sepertiku, dia justru dengan cueknya lari-larian dan menggoda teman-temannya. Dia apa adanya, bajunya hanya kaos oblong, celana jins belel serta sepatu convers yang sepertinya tidak pernah dicuci beberapa bulan. Hanya dia yang mencuri perhatianku. Itu pertemuan pertamaku dengannya, siapa sangka malah selanjutnya aku sering bertemu dengannya.
            Perjalanan Jepara-Semarang biasanya aku tempuh dalam waktu dua jam. Aku sudah terbiasa melakukan perjalanan motor luar kota. Saat masih dengan Arya aku kerap melakukan perjalanan motor ke Jogja yang bahkan bisa ditempuh dalam waktu lima jam dari Jepara. Kami sama-sama berasal dari Jepara. Kota dengan kerajinan khas ukirnya yang mendunia. Kota lahirnya dimana pahlawan wanita Raden Ajeng Kartini.
***

To be continue and see you at part two!

Komentar